Resensi Novel Sabtu Bersama Bapak │ Adhitya Mulya - Dunia Resensi

Kumpulan resensi buku, cara resensi buku, contoh resensi buku, resensi buku fiksi, resensi buku nonfiksi, resensi novel, contoh resensi novel.

Latest Update
Fetching data...

Kamis, 17 September 2020

Resensi Novel Sabtu Bersama Bapak │ Adhitya Mulya





Dunia Resensi - Resensi Novel Sabtu Bersama Bapak 


Sabtu Bersama Bapak untukku bukan sekadar novel. Bukan hanya cerita fiksi yang sukses dijadikan film. Tapi Sabtu Bersama Bapak buatku adalah sebuah bekal hidup. Lebay? Emmm, ya mungkin. Ada banyak sekali pesan-pesan yang bisa diambil dari dialog-dialog di buku ini. 

Aditya Mulya sang penulis sepertinya sedang berusaha menuangkan keresahan-keresahan yang dia rasakan dan semua itu relate dengan keresahan semua orang. 

Jujur saja setelah membaca Sabtu Bersama Bapak, aku jadi mikir ulang tentang apa itu rencana? Bagaimana menjadi anak dan orangtua yang baik. Bagaimana menjadi istri yang hebat, mandiri dan lembut sekaligus?

Pak Gunawan Garnida adalah bapak dan suami yang mempersiapkan segala sesuatunya dengan teratur. Di detik-detik menjelang kematiannya akibat kanker, beliau membuat rekaman-rekaman yang nantinya akan menjadi bekal kehidupan anak-anak dan istrinya. Pak Gunawan adalah perencana yang baik. 

Setelah kematian Pak Gunawan, Ibu Itje membesarkan anak-anaknya, Cakra—yang dipanggil Saka, dan Satya, seorang diri. 

Ibu Itje adalah gambaran sosok Ibu dan Istri panutan. Cerdas, lembut, mandiri, dikemas dalam satu paket bernama Ibu Itje. 

Meskipun semua kebutuhan hidupnya dan anak-anak telah disiapkan Pak Gunawan, tapi beliau tetap bekerja. Beliau tidak mau menyusahkan orang lain, termasuk anak-anaknya. Oh iya, yang hebat dari keluarga ini adalah motto hidupnya. Mereka tidak ingin menyusahkan orang lain. Tidak boleh bergantung pada orang lain, justru kalau bisa mereka ingin berguna untuk orang lain. 

Dengan adanya rekaman-rekaman video yang ditinggal Pak Gunawan, Satya dan Saka tidak kehilangan sosok bapak. Mereka tumbuh menjadi anak-anak hebat. 

Satya sukses bekerja dan tinggal di Denmark bersama istri dan anak-anaknya.

Cakra menjadi petinggi bank asing di Jakarta.

Ibu Itje sukses mengembangkan 8 warung makannya. 

Aih. Hidup yang indah. 

Nyatanya tidak demikian. Ibu Itje mendapat musibah, Satya gagal dengan keluarganya, Cakra jomblo abadi. Hehe. 

Penulis sukses sekali membangun emosi pembaca. Terharu dengan perjuangan Ibu Itje. Ngakak oleh kisah asmara Cakra. Asli deh, di bagian Saka ini paling kocak, ya soalnya dia jomblo ngenes. Bagian dicengin sama saudara kalau kumpul keluarga, dicengin bawahannya di kantor, wajah Saka ini kalau aku bayangin yang lempeng tapi lucu gemes gitu loh. Hahaha. Dannn bagian teremosional ada di setiap part Satya. 

Dalam kehidupan Satya kita belajar berumah tangga. Belajar membangun dan mempertahankan kemistri suami-istri, belajar menjadi orang tua. Mendalami kehidupan Satya akan membuat kita terenyuh. 

Di buku Sabtu Bersama Bapak ini, ada banyak sekali pelajaran hidup, yang mungkin sebagian sudah pernah aku dengar, tapi sekali lagi mengingatkan dan membuat aku berpikir, “Iya, ya, benar juga.” Menurut aku, buku ini sangat relevan dan cocok dibaca siapa aja. 

Sebagian dari kita mungkin beranggapan bahwa nilai di ijazah itu nggak penting, yang penting adalah softskill di lapangan. Setelah membaca buku ini dijamin kalian bakal berubah pikiran, oleh karena itu, buku ini cocok sekali dibaca mereka yang masih pelajar, supaya tidak menyia-nyiakan waktu belajarnya. 

Cocok dibaca yang sedang jomblo, sedang ingin menikah, sedang menjadi bapak. Ahh, pokoknya siapa aja harus baca. Karena buku sehebat ini akan sayang banget kalau dilewatin gitu aja. Ada begitu banyakkk nilai-nilai moral yang bisa diambil dan direnungkan.

Salah satunya kutipan yang ini, 

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid yang sama-sama kuat, bukan yang saling mengisi. Karena menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang, bukan tanggung jawab orang lain.”

***


Info buku: 

Judul: Sabtu Bersama Bapak

Pengarang: Aditya Mulya

Penerbit: Gagas Media

Cetakan ke-21 2016

ISBN: 979-780-721-5



Tambahkan komentar di sini
EmoticonEmoticon