Resensi Novel 1984 │ George Orwell - Dunia Resensi

Kumpulan resensi buku, cara resensi buku, contoh resensi buku, resensi buku fiksi, resensi buku nonfiksi, resensi novel, contoh resensi novel.

Latest Update
Fetching data...

Sabtu, 18 Juli 2020

Resensi Novel 1984 │ George Orwell


 
“WAR IS PEACE
FREEDOM IS SLAVERY
IGNORANCE IS STRENGTH”


Satu kata untuk 1984, George Orwell; “Mengerikan!”

Pernah terbayang tidak, bagaimana jika setiap gerak-gerik kita diawasi? 

Saya ulangi,

Diawasi!

Setiap hari, 24/7 apa pun yang kita lakukan diawasi polisi.

Kebayang?

Bahkan di toilet, bercinta, ke pasar juga diawasi. 

Dunia Resensi - Resensi Novel 1984


Novel 1984 merupakan salah satu karya gemilang Orwell yang dipercaya banyak orang sebagai ramalan akan masa depan. Kenapa begitu?
 
Faktanya buku ini ditulis pada tahun 1949, dan semakin mendekati tahun 1984 suasana semakin tegang. Perlahan ramalan-ramalan itu menjadi kenyataan, bahkan buku ini saya rasa masih relevan sampai sekarang. Setelah 71 tahun berlalu. Saya yakin banyak yang masih menjadikan buku ini sebagai “kesayangan” di rak-rak bukunya. 

Hal itu dapat membuktikan bahwa George Orwell memang seorang penulis yang berusaha atau bahkan telah berhasil untuk melampaui zamannya. Tak heran jika penulis kebangsaan Inggris itu menjadi peraih Nobel Kesusastraan. 

Pada zaman itu, dunia terbagi menjadi tiga negara besar. Oceania, Eurasia, dan Eastasia. Latar 1984 adalah di Oceania di mana sebelum revolusi, merupakan negara yang sangat menyedihkan, gelap, dan kotor. Semua keadaan itu karena keserakahan dan kebijakan antar para kapitalis yang hanya menguntungkan golongannya sendiri dan menganggap kaum proletar tidak lebih dari budak.

Pasca revolusi, Oceania dikuasai oleh satu Partai yang dipimpin oleh seorang Big Brother. Pada zaman ini, Oceania bisa dikatakan sebagai negara modern meskipun keadaan tidak lebih baik dari sebelumnya. 

Big Brother menggunakan cara-cara yang sangat totalitarian untuk mempertahankan kekuasaannya dengan pembenar agar Oceania tidak menjadi negara yang dikuasai oleh kaum kapitalis seperti sebelumnya. Roda pemerintahan dikendalikan oleh pemerintah yang otoriter dengan mengutamakan polisi pikiran dan teleskrin

Nahhh, itu dia, teleskrin. Alat yang mungkin bisa dikatakan sebagai kamera cctv. Selain teleskrin dan polisi pikiran, juga dipasang microphone tersembunyi bahkan di bilik-bilik toilet. Juga poster-poster besar bertuliskan “Big Brother Is Watching You”

Ngeri! 

Pengawasan itu semakin menegaskan bahwa pada zaman ini 'privasi' hanyalah sebuah fantasi yang sangat sulit direalisasikan. 

Winston Smith —tokoh utama dalam buku ini— adalah seorang anggota Partai yang dipimpin oleh Big Brother. tugas Winston adalah untuk memalsukan atau bahkan menghapus sejarah dan menulis ulang sejarah baru sesuai kehendak Partai yang berbalut atas kehebatan Big Brother, walaupun dalam kebanyakan kasus kehebatan Big Brother tidaklah pernah terjadi sama sekali.

Iya, sejarah pada masa itu dihapus dan diganti sekehendak hati Big Brother yang kuasa.

Legitimasi atas kekuasaan Big Brother memang diakui, tapi itu semua tidak terlepas dari kritik, penolakan dan pembangkangan rakyat Oceania, termasuk Winston. 

Winston beberapa kali melanggar larangan-larangan kecil, seperti, bercinta dengan pelacur dan membeli barang dari pasar gelap. 

Sampai pada titik di mana ia berani dan mungkin memang harus berani melawan itu semua untuk mencoba meloloskan diri dari belenggu kebohongan, pengawasan, atau hanya sekadar memuaskan nafsunya untuk membuktikan konsekuensi dari tindakan-tindakan yang pernah ia lakukan.

Walaupun pada akhirnya, Winston harus berakhir dengan peluru yang menembus otaknya setelah ia menenggak arak terakhirnya. 

Well, tentunya nggak asing lagi kan mendengar ending dari perjalanan Winston, “penculikan” “penyiksaan” “pelenyapan” “penghianatan” ...

This book is the biography of the many nations in the world.

1984
George Orwell 
Signet Classics

Oh iyaaa, saya juga ada beberapa rekomendasi judul buku dengan isu serupa yang akan sayang jika dilewatkan. Salah satunya karya penulis dalam negeri Leila Chudori dengan judul, “Laut Bercerita” dan satu lagi “Human Act” yang dalam bahasa Indonesia berjudul “Mata Malam” karya Han Kang, penulis Korea Selatan. 

Xoxo ...

1 komentar:

  1. Ketika penulis menerawang tentang kejadian empat puluh tahun yang akan datang

    BalasHapus

Tambahkan komentar di sini
EmoticonEmoticon