Reem: Ketika Cinta dan Maut Saling Bertautan - Dunia Resensi

Kumpulan resensi buku, cara resensi buku, contoh resensi buku, resensi buku fiksi, resensi buku nonfiksi, resensi novel, contoh resensi novel.

Latest Update
Fetching data...

Selasa, 06 Agustus 2019

Reem: Ketika Cinta dan Maut Saling Bertautan

reem, novel-reem, sinta-yudisia


Resensi Novel Reem - 

“Apakah maut dan desing peluru ini akan mematahkan cintamu?”


Sebenarnya aku nggak tau mau nulis resensi seperti apa, tapi baiklah aku akan mengajak kalian mengintip sedikit isi novel Reem ini.

Sebelumnya, mari kenalan dulu dengan sang penulis. Mbak Sinta Yudisia ini seorang penulis, psikolog, dan juga trainer kepenulisan. Asalnya dari mana? Mbak Sintia asli wong Jowo, dia lahir di Jogja tanggal 18 Februari 1974. Nah, novel Reem merupakan buku ke 61 dan novel ke 19 dari dia. Jadi, kalau kalian belum kenal siapa Sinta Yudisia, kasian sekali. :)

Sebenarnya Reem ini novel apa sih, Na? Apa ya, romance iya, historical iya, islami iya, jadi sebut saja novel romance historical islami. Haha.

Awal tertarik baca karena nggak sengaja ketemu di toko buku. Melihat sampulnya bertuliskan “inspired by true story” membuatku tak pikir panjang lagi untuk mengangkutnya pulang. Dan ternyata, aku nggak menyesal sama sekali beli buku ini.

Mengisahkan Reem, gadis berdarah Palestina-Indonesia yang tinggal di Maroko. Duh, dengar ketiga nama negara itu saja aku sudah merinding.

Jadi Reem ini benar ada dan hidup di Maroko sana, tapi tidak 100% cerita di novel ini nyata, ya. Sebagian lainnya hanyalah karangan.

Ayah Reem orang Palestina—Gaza—sementara ibunya berasal dari Kalimantan, Indonesia.

Ceritanya Reem ini gadis tangguh dengan sejuta rahasia. Penghafal Quran sejak usia 11 tahun. Menekuni sastra, sejarah dan berharap bisa menjadi seorang mufassir. Di lembar-lembar awal buku ini, pembaca akan dibuat haru dengan kisah masa kecil Reem.

Selanjutnya, cerita kehidupan nggak lengkap kan tanpa cinta? Jadi di buku ini dikisahkan Kasim, pemuda Indonesia yang jatuh cinta pada Reem saat berorasi di depan gedung parlemen di Rabat. Di awal perkenalan, Kasim meminta bantuan Reem dalam melakukan penelitian tesis tentang Palestina.  Mereka banyak berdiskusi tentang Palestina, dari sejarah tiga agama, perang yang memilukan, anak-anak dan ibu-ibu yang pemberani dan kisah hidup Baba, Ummi dan Reem di tanah para Nabi. Kurang lebih begitulah. Sampai akhirnya mereka jatuh cinta.

Alya dan Ilham yang konyol, kocak, senang bertikai dan ramai kalau bertengkar—Alya ini adiknya Kasim. Di scene Alay-Ilham, pembaca akan dibuat tertawa, kesal, dan juga gemas. Penulis bisa sekali memainkan emosi pembaca. Campur aduk seperti gado-gado. Lalu juga Dokter Salim Aziz yang turut jatuh hati pada Reem. Siapa Dokter Salim ini? Baca bukunya, ya. Hihi.

Selain kisah cinta, setting Marokonya dapet banget. Reem yang diceritakan seorang mahasiswi sejarah banyak bercerita dan menjelaskan tentang tempat-tempat bersejarah di Maroko. Kota-kota indah seperti Rabat, Fez, Marrakesh menjadi bagian di dalamnya. Tapi, ada satu tempat yang menjadi favoritku di novel Reem ini. Sebuah jalan bernama Rue Sukarno. Betapa negarawan bangsa ini begitu dihormati di mata dunia.

Lalu, di bagian akhir novel ini bercerita tentang kematian. Terkadang yang sakit tidak meninggal di awal, malah yang tidak sakit bisa meninggal lebih dulu. Ya, novel ini bercerita tentang Palestina, Cinta, dan Kematian.

Oh iya hampir lupa, bagian menarik lainnya adalah puisi-puisi Reem yang dalam dan menghanyutkan. Novel ini sangat direkomendasikan bagi kamu yang menyukai genre romance islami.


Sekian resensi Novel Reem kali ini, semoga bisa menjadi gambaran sebelum membelinya. Jadi, selamat membaca dan terhanyut.



Noted: Novel Reem menjadi pemenang fiksi dewasa terbaik di Islamic Book Fair Award 2018


Penulis: Sinta Yudisia

Penyunting naskah: Irfan Hidayatullah
Cetakan: 1, Agustus 2017
Penerbit: PT Mizan, Bandung
Tebal halaman: 352 halaman
ISBN: 978-602-6716-11-8





1 komentar:

Tambahkan komentar di sini
EmoticonEmoticon