Melbourne (Wedding) Marathon by Almira Bastari - Dunia Resensi

Kumpulan resensi buku, cara resensi buku, contoh resensi buku, resensi buku fiksi, resensi buku nonfiksi, resensi novel, contoh resensi novel.

Latest Update
Fetching data...

Rabu, 27 Februari 2019

Melbourne (Wedding) Marathon by Almira Bastari

Melbourne (Wedding) Marathon by Almira Bastary

“No, I am not jealous. I just want a love like that. Yes, like that.”



Judul Buku: Melbourne (Wedding) Marathon
Penulis: Almira Bastari
Editor : Cicilia Prima
Genre: Fiction & Literature, Novel, MetroPop, Romance
Tebal: 228 halaman
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
Cetakan pertama : Juli 2017





Blurb Melbourne (Wedding) Marathon:


Sydney Deyanira
Wanita cerdas, mandiri, ambisius, dan perfeksionis. Sydney merasa patah hati ketika sahabat yang ia kencani selama satu semester terakhir memilih berpacaran dengan orang lain. Dijuluki sebagai ahli percintaan prematur, Sydney mulai berpikir untuk melakukan apa yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, menjalin hubungan palsu dengan orang baru.

Anantha Daniswara
Pria sukses, arogan, suka bergonta-ganti pasangan namun masih belum berdamai dengan masa lalunya. Demi memenuhi tantangan mantan pacarnya, Anantha nekat meminta pelayannya sendiri untuk menjadi kekasihnya. Melbourne bukan kota cinta dan jauh dari kata romantis. Sebagai kota yang paling nyaman ditinggali di dunia, Melbourne menjadi awal baru bagi dua insan yang tertekan dengan rentetan pesta pernikahan!



Review Melbourne (Wedding) Marathon:

reviewbuku.online - Oke, sebelum aku mulai review novel Melbourne Wedding Marathon ini. Aku mau cerita kalau kata teman yang sama-sama suka novel romance, “Kamu harus banget baca novelnya Almira. Keren parah!” Dengan gaya menggebu dan heboh. Jadi ya, siapa yang nggak penasaran?

Almira sendiri tergolong penulis baru dan memulai debutnya lewat platform online. Mau tau bagaimana dia mengolah diksi? Yuk, ah, simak sedikit ulasan tentang bukunya!

Menceritakan seorang mahasiswa asal Indonesia di Melbourne, Sydney Deyanira. Gadis pintar, mandiri dan perfeksionis. Seperti disebutkan di blurbnya, kisah cinta Sydney begitu tragis.

Jadi, ceritanya Sydney ini selalu sial soal percintaan. Bahkan dia juga diam-diam naksir sama sahabatnya sendiri.

Namun kemudian, Sydney mendapat pekerjaan paruh waktu, memasak masakan Indonesia di sebuah penthouse milik orang Indonesia. Siapa sangka, ternyata pemilik penthouse itu seorang eksekutif muda nan tampan.

Nah, dari sanalah cerita cinta dimulai. Dari yang awalnya hanya teman menghadiri pernikahan marathon, jadi teman jalan.

Menurutku, lewat novel ini penulis berusaha mengajak pembaca untuk melihat dari dua sudut pandang. Bagaimana mengerti perempuan dan bagaimana bersikap pada laki-laki. Seperti pada interaksi Sydney dan Rafka —sahabat yang diam-diam dicintai Sydney. Kalian akan bisa melihatnya di scene Sydney-Rafka.

Lalu, penulis juga memaparkan kejadian yang dekat dengan kita, bahkan mungkin beberapa ada yang kita alami sendiri. Contohnya, di scene Detira dan pacarnya yang tidak kunjung memberi kejelasan hubungan. Juga kekhawatiran Sydney dengan alarm yang dibunyikan sekitar mengenai usianya.

Bahasa yang digunakan Almira ringan dan mudah dipahami. Setiap kejadian yang dibuatnya terkesan natural. Meskipun, ada beberapa yang drama. Namanya juga romance, kan? Romance sama drama itu udah kayak otot sama darah, tak terpisahkan. :)

Alurnya sangat mudah tertebak dan tokohnya diciptakan begitu sempurna.
Dari caranya mendiskripsikan Sydney saja sudah sempurna banget, kan? Ditambah lagi munculnya sosok Anantha. W.O.W banget si Nantha ini.

Interaksi antar tokoh sangat hidup. Bukan saja interaksi tokoh utama tapi tokoh pendukungnya juga seru buat diikuti.

Biar pun sudah tau akan apa yang menunggu di lembar-lembar selanjutnya, aku tetap antusias. Memang benar kata teman, “Buat kamu yang suka romance wajib banget baca buku ini!” Mereka manis bangettt!

Kecemburuan Rafka, keraguan Sydney, perjuangan Anantha. Almira bisa banget mempermainkan emosi pembaca. Diksi yang digunakan juga mudah dipahami sehingga pesan yang ingin disampaikannya sampai ke pembaca.

Hanya saja, sangat disayangkan dengan begitu banyaknya typo. Mungkin berbeda di cetakan keduanya, karena katanya sudah direvisi. Bukan hanya typo, tapi juga salah penyebutan nama dari Danisha jadi Clara dan itu satu halaman penuh yang jujur saja ganggu banget.

Selebihnya, aku suka banget dengan cerita metropop ala Almira. Dan ditunggu karya- karya selanjutnya. ❤





Tambahkan komentar di sini
EmoticonEmoticon