Dunia Resensi

Kumpulan resensi buku, cara resensi buku, contoh resensi buku, resensi buku fiksi, resensi buku nonfiksi, resensi novel, contoh resensi novel.

Latest Update
Fetching data...

Kamis, 17 September 2020

Resensi Novel Sabtu Bersama Bapak │ Adhitya Mulya





Dunia Resensi - Resensi Novel Sabtu Bersama Bapak 


Sabtu Bersama Bapak untukku bukan sekadar novel. Bukan hanya cerita fiksi yang sukses dijadikan film. Tapi Sabtu Bersama Bapak buatku adalah sebuah bekal hidup. Lebay? Emmm, ya mungkin. Ada banyak sekali pesan-pesan yang bisa diambil dari dialog-dialog di buku ini. 

Aditya Mulya sang penulis sepertinya sedang berusaha menuangkan keresahan-keresahan yang dia rasakan dan semua itu relate dengan keresahan semua orang. 

Jujur saja setelah membaca Sabtu Bersama Bapak, aku jadi mikir ulang tentang apa itu rencana? Bagaimana menjadi anak dan orangtua yang baik. Bagaimana menjadi istri yang hebat, mandiri dan lembut sekaligus?

Pak Gunawan Garnida adalah bapak dan suami yang mempersiapkan segala sesuatunya dengan teratur. Di detik-detik menjelang kematiannya akibat kanker, beliau membuat rekaman-rekaman yang nantinya akan menjadi bekal kehidupan anak-anak dan istrinya. Pak Gunawan adalah perencana yang baik. 

Setelah kematian Pak Gunawan, Ibu Itje membesarkan anak-anaknya, Cakra—yang dipanggil Saka, dan Satya, seorang diri. 

Ibu Itje adalah gambaran sosok Ibu dan Istri panutan. Cerdas, lembut, mandiri, dikemas dalam satu paket bernama Ibu Itje. 

Meskipun semua kebutuhan hidupnya dan anak-anak telah disiapkan Pak Gunawan, tapi beliau tetap bekerja. Beliau tidak mau menyusahkan orang lain, termasuk anak-anaknya. Oh iya, yang hebat dari keluarga ini adalah motto hidupnya. Mereka tidak ingin menyusahkan orang lain. Tidak boleh bergantung pada orang lain, justru kalau bisa mereka ingin berguna untuk orang lain. 

Dengan adanya rekaman-rekaman video yang ditinggal Pak Gunawan, Satya dan Saka tidak kehilangan sosok bapak. Mereka tumbuh menjadi anak-anak hebat. 

Satya sukses bekerja dan tinggal di Denmark bersama istri dan anak-anaknya.

Cakra menjadi petinggi bank asing di Jakarta.

Ibu Itje sukses mengembangkan 8 warung makannya. 

Aih. Hidup yang indah. 

Nyatanya tidak demikian. Ibu Itje mendapat musibah, Satya gagal dengan keluarganya, Cakra jomblo abadi. Hehe. 

Penulis sukses sekali membangun emosi pembaca. Terharu dengan perjuangan Ibu Itje. Ngakak oleh kisah asmara Cakra. Asli deh, di bagian Saka ini paling kocak, ya soalnya dia jomblo ngenes. Bagian dicengin sama saudara kalau kumpul keluarga, dicengin bawahannya di kantor, wajah Saka ini kalau aku bayangin yang lempeng tapi lucu gemes gitu loh. Hahaha. Dannn bagian teremosional ada di setiap part Satya. 

Dalam kehidupan Satya kita belajar berumah tangga. Belajar membangun dan mempertahankan kemistri suami-istri, belajar menjadi orang tua. Mendalami kehidupan Satya akan membuat kita terenyuh. 

Di buku Sabtu Bersama Bapak ini, ada banyak sekali pelajaran hidup, yang mungkin sebagian sudah pernah aku dengar, tapi sekali lagi mengingatkan dan membuat aku berpikir, “Iya, ya, benar juga.” Menurut aku, buku ini sangat relevan dan cocok dibaca siapa aja. 

Sebagian dari kita mungkin beranggapan bahwa nilai di ijazah itu nggak penting, yang penting adalah softskill di lapangan. Setelah membaca buku ini dijamin kalian bakal berubah pikiran, oleh karena itu, buku ini cocok sekali dibaca mereka yang masih pelajar, supaya tidak menyia-nyiakan waktu belajarnya. 

Cocok dibaca yang sedang jomblo, sedang ingin menikah, sedang menjadi bapak. Ahh, pokoknya siapa aja harus baca. Karena buku sehebat ini akan sayang banget kalau dilewatin gitu aja. Ada begitu banyakkk nilai-nilai moral yang bisa diambil dan direnungkan.

Salah satunya kutipan yang ini, 

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid yang sama-sama kuat, bukan yang saling mengisi. Karena menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang, bukan tanggung jawab orang lain.”

***


Info buku: 

Judul: Sabtu Bersama Bapak

Pengarang: Aditya Mulya

Penerbit: Gagas Media

Cetakan ke-21 2016

ISBN: 979-780-721-5



Read More

Senin, 14 September 2020

Resensi Novel Genesis │ Indah Hanaco │ Pijar Psikologi

 

novel genesis

Dunia Resensi - Genesis


“Kadang, kita bisa memahami kenapa sampai terjadi suatu pembunuhan. Tapi, nggak akan pernah ada alasan untuk kasus pemerkosaan.”


Dibuka dengan kalimat yang membuat merinding, Genesis sukses membuatku marah, geram dan juga prihatin sekaligus, sepanjang membacanya. 

Drama berlatarkan kesehatan mental ini merupakan buku ke-46 penulis kenamaan Indah Hanaco. Kali ini dia, berkolaborasi dengan para penulis dari Pijar Psikologi. 

Diceritakan masih dengan sudut pandang penulis, namun dari sisi ketiga tokohnya membuat pembaca paham akan seperti apa sebenarnya perasaan mereka. 

Sebenarnya, ada banyak sekali isu yang dibahas di buku ini, meskipun yang paling mendominasi adalah perihal kekerasan seksual. 

Misalnya tokoh Aubry yang dari kecil menyaksikan dan merasakan kekerasan fisik dari sang ayah. Dipukul, dilempar, dan hal-hal mengerikan yang membuatnya harus mendapat pertolongan dari ahli. Trauma masa kecilnya itulah yang membuatnya tumbuh menjadi gadis tertutup dan antisosial. 

Adolf si pencadu narkoba dan alkoholic, Lilo sang predator sex, dan juga Oksana yang mengalami kekerasan seksual. Bahkan, Wing yang terlihat paling normal di antara mereka pun sebenarnya tak nyaman dengan popularitas yang dia dapatkan. Dari Wing kita jadi tau bahkan luka batin itu tidak melulu didapat karena kejadian traumatis yang besar. Bisa juga dari hal-hal kecil yang mungkin kita anggap sepele atau malah bercandaan. 

Pertama-tama penulis mengajak kita menyelami perasaan Oksana setelah mendapat kekerasan seksual, di bagian ini, emosi pembaca benar-benar diaduk. Seolah penulis menempatkan kita di posisi Oksana yang sedang kalut; marah, sedih, takut, jijik, dan putus asa secara bersamaan. 

Seperti apa pertolongan pertama yang harus didapat korban kekerasan seksual, proses penyelidikan dari polisi yang tak jarang justru membuat si korban makin depresi, jika kasusnya dibawa ke ranah hukum, dan apa yang kemudian di lakukan jika korban sampai hamil? 

Nah, apa yang harus dilakukan jika korban sampai hamil? 

Menikahkannya dengan pelaku tentu merupakan pilihan paling bodoh, karena sama saja membiarkan korban hidup dalam neraka.

Membiarkan korban membesarkan anak seorang diri juga kurang tepat karena sama dengan membiarkan korban hidup dengan mimpi buruk. Menjadi buah bibir tetangga, belum lagi nanti si anak kena imbasnya sewaktu besar. 

Melakukan aborsi? Meskipun itu terdengar keputusan paling tepat, tapi setelah itu sama saja korban akan mendapat banyak kecaman karena dianggap tidak bermoral. Tidak punya sisi kemanusiaan. 

Lalu apa yang harus dilakukan?

Baca saja bukunya dan ayo renungkan sama-sama. Hehe. 

Menurutku, membawa topik kesehatan mental pada cerita fiksi adalah tindakan yang bagus. Selama ini masyarakat kita masih menganggap tabu obrolan perihal kesehatan mental. Bahkan tak jarang yang menganggap konsultasi dengan psikologi hanya untuk orang gila. Orang depresi adalah dia yang tidak pandai bersyukur dan lemah imannya. Bahwa kekerasan seksual adalah salah pakaian si korban dan masih banyak lagi. 

Dengan adanya buku ini, semoga isu kesehatan mental bukan lagi hal tabu. Semoga cerita Oksana dan kawan-kawannya mampu membumikan isu-isu kesehatan mental. Menjadikannya topik yang layak dibahas di tongkrongan. Menyadarkan mereka yang masih denial karena takut dianggap gila. 

Terakhir, aku berharap banget akan ada seri-seri lanjutan dari buku Genesis ini. Mungkin membahas masa kecil Aubry, atau pun menceritakan sebab Lilo menjadi predator sex. 

Xoxo

***

Info buku:

Penulis: Indah Hanaco x Pijar Psikologi

Penyunting: Grace Situngkir

Penata Letak: Debora Melina

Sampul: Sarah Aghnia Husna

ISBN: 9786230016493

Kategori: Drama 18+

Cetakan Pertama: 29 Juni 2020

Read More

Resensi Buku Islam Tuhan Islam Manusia │ Haidar Bagir

islam tuhan islam manusia


Dunia Resensi - Resensi Buku Islam Tuhan Islam Manusia 

Tulisan-tulisan yang dirangkum dalam buku ini berbicara tentang tafsir agama dan bagaimana tafsir agama bisa diupayakan menjawab kebutuhan manusia, di zaman yang di dalamnya kita sekarang berada.


Judul buku: Islam Tuhan Islam Manusia; Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau (Edisi Diperkaya)

Kategori: Filsafat dan Agama

Penulis: Haidar Bagir

Penerbit: Mizan Publishing

Rating Goodreads : 4,14

ISBN: 9786024411084

Tebal: 314 halaman

Tentang penulis: Haidar Bagir lahir di Surakarta, 20 Februari 1957. Dia meraih S-1 dari Jurusan Teknologi Industri ITB (1982), S-2 dari Pusat Studi Timur Tengah, Harvard University, AS (1992), dan S-3 dari Jurusan Filsafat Universitas Indonesia (UI) dengan riset selama setahun (2000-2001) di Departemen Sejarah dan Filsafat Sains, Indiana University, Bloomington, AS. 

Read More

Senin, 20 Juli 2020

Resensi The Things You Can See Only When You Slow Down │Haemin Sunim

 
Kenapa saya begitu sibuk?

Ketika segala sesuatu di sekitar saya bergerak begitu cepat, saya berhenti sejenak dan bertanya, “Apakah memang dunia yang terlalu sibuk, atau malah batin saya?”
The Things You Can See Only When You Slow Down, Haemin Sunim


Buku self improvement dari Korea Selatan ini sudah terjual lebih dari tiga juta eksemplar di negara asalnya dan menduduki peringkat pertama buku terlaris selama 41 minggu berturut-turut. Kemudian diterbitkan dalam Bahasa Indonesia pada April 2020 oleh POP, imprint Kepustakaan Populer Gramedia. 

Resensi The Things You Can See Only When You Slow Down


The Things You Can See Only When You Slow Down memiliki delapan bab yang membahas berbagai aspek kehidupan—dari cinta, persahabatan, hingga kerja dan aspirasi—serta bagaimana sebuah perhatian yang sungguh-sungguh dapat membantu kita di dalamnya.

Setiap bab dibuka dengan sebuah esai, kemudian diikuti oleh serangkaian pesan singkat—kata-kata nasihat dan kebijaksanaan yang ditujukan langsung kepada pembaca untuk dipertimbangkan satu per satu, dan diingat.

Di sepanjang halaman ada ilustrasi warna yang dibuat oleh Youngcheol Lee; ini dimaksudkan sebagai selingan yang menenangkan, untuk merenung dan melambatkan kecepatan seperti yang dilakukan saat meditasi.

Haemin Sunim menginstruksikan agar membaca bukunya pelan-pelan, tidak seperti membaca novel. Supaya pembaca lebih bisa meresapi dan memahami maksud dari tulisannya. 

Hasilnya?

Saya mempraktekkan itu, membaca tidak terburu-buru dan memang menenangkan. 

Salah satu kata-kata Haemin  Sunim yang saya suka adalah;

“Saat kita berangkat kerja di pagi hari, apabila kita pernah bertanya, ‘Apa saya harus menjalani sisa hidup seperti ini?’ cobalah lakukan hal ini:

Bangunlah sedikit lebih awal keesokan paginya, kemudian duduklah di tengah keheningan, seperti sedang bermeditasi.

Tarik napas dalam-dalam dan lambat-lambat, dan ingatkan diri kita bagaimana pekerjaan kita membantu orang lain, meski tidak terasa penting atau tidak secara langsung.

Saat kita berfokus pada orang lain, kita bisa menemukan kembali arti dan tujuan pekerjaan kita.” Halaman 20.

Menurut saya, salah satu kelebihan buku ini adalah, menyentuh hampir semua sisi kehidupan yang terdiri dari dunia kerja, hubungan sosial baik teman maupun percintaan, lalu sisi spiritual dan masa depan. Membaca buku ini membuat saya bisa bersantai sambil berintrospeksi sejenak dari riuhnya kehidupan. 

Dunia kita memang sibuk, dan adanya buku ini memang membuat kita teringat kembali pada hal-hal yang sederhana tapi terlupakan begitu saja.

Jadi, selamat bermeditasi dan menepi sejenak dari bising dunia ini. 

Xoxo ...

***

Informasi buku:

The Things You Can See Only When You Slow Down

Penulis: Haemin Sunim

Judul Asli: The Things You Can See Only When You Slow Down

Penerjemah: Daniel Santosa

Penyunting: Katrine Gabby Kusuma

Ilustrasi: Youngcheol Lee

Genre: Self Improvement 

Cetakan Pertama: April 2020

ISBN: 978-602-481-365-9

Tebal: xi+265hlm; 13,5 cm x 18 cm
Read More

Sabtu, 18 Juli 2020

Resensi Novel 1984 │ George Orwell


 
“WAR IS PEACE
FREEDOM IS SLAVERY
IGNORANCE IS STRENGTH”


Satu kata untuk 1984, George Orwell; “Mengerikan!”

Pernah terbayang tidak, bagaimana jika setiap gerak-gerik kita diawasi? 

Saya ulangi,

Diawasi!

Setiap hari, 24/7 apa pun yang kita lakukan diawasi polisi.

Kebayang?

Bahkan di toilet, bercinta, ke pasar juga diawasi. 

Dunia Resensi - Resensi Novel 1984


Novel 1984 merupakan salah satu karya gemilang Orwell yang dipercaya banyak orang sebagai ramalan akan masa depan. Kenapa begitu?
 
Faktanya buku ini ditulis pada tahun 1949, dan semakin mendekati tahun 1984 suasana semakin tegang. Perlahan ramalan-ramalan itu menjadi kenyataan, bahkan buku ini saya rasa masih relevan sampai sekarang. Setelah 71 tahun berlalu. Saya yakin banyak yang masih menjadikan buku ini sebagai “kesayangan” di rak-rak bukunya. 

Hal itu dapat membuktikan bahwa George Orwell memang seorang penulis yang berusaha atau bahkan telah berhasil untuk melampaui zamannya. Tak heran jika penulis kebangsaan Inggris itu menjadi peraih Nobel Kesusastraan. 

Pada zaman itu, dunia terbagi menjadi tiga negara besar. Oceania, Eurasia, dan Eastasia. Latar 1984 adalah di Oceania di mana sebelum revolusi, merupakan negara yang sangat menyedihkan, gelap, dan kotor. Semua keadaan itu karena keserakahan dan kebijakan antar para kapitalis yang hanya menguntungkan golongannya sendiri dan menganggap kaum proletar tidak lebih dari budak.

Pasca revolusi, Oceania dikuasai oleh satu Partai yang dipimpin oleh seorang Big Brother. Pada zaman ini, Oceania bisa dikatakan sebagai negara modern meskipun keadaan tidak lebih baik dari sebelumnya. 

Big Brother menggunakan cara-cara yang sangat totalitarian untuk mempertahankan kekuasaannya dengan pembenar agar Oceania tidak menjadi negara yang dikuasai oleh kaum kapitalis seperti sebelumnya. Roda pemerintahan dikendalikan oleh pemerintah yang otoriter dengan mengutamakan polisi pikiran dan teleskrin

Nahhh, itu dia, teleskrin. Alat yang mungkin bisa dikatakan sebagai kamera cctv. Selain teleskrin dan polisi pikiran, juga dipasang microphone tersembunyi bahkan di bilik-bilik toilet. Juga poster-poster besar bertuliskan “Big Brother Is Watching You”

Ngeri! 

Pengawasan itu semakin menegaskan bahwa pada zaman ini 'privasi' hanyalah sebuah fantasi yang sangat sulit direalisasikan. 

Winston Smith —tokoh utama dalam buku ini— adalah seorang anggota Partai yang dipimpin oleh Big Brother. tugas Winston adalah untuk memalsukan atau bahkan menghapus sejarah dan menulis ulang sejarah baru sesuai kehendak Partai yang berbalut atas kehebatan Big Brother, walaupun dalam kebanyakan kasus kehebatan Big Brother tidaklah pernah terjadi sama sekali.

Iya, sejarah pada masa itu dihapus dan diganti sekehendak hati Big Brother yang kuasa.

Legitimasi atas kekuasaan Big Brother memang diakui, tapi itu semua tidak terlepas dari kritik, penolakan dan pembangkangan rakyat Oceania, termasuk Winston. 

Winston beberapa kali melanggar larangan-larangan kecil, seperti, bercinta dengan pelacur dan membeli barang dari pasar gelap. 

Sampai pada titik di mana ia berani dan mungkin memang harus berani melawan itu semua untuk mencoba meloloskan diri dari belenggu kebohongan, pengawasan, atau hanya sekadar memuaskan nafsunya untuk membuktikan konsekuensi dari tindakan-tindakan yang pernah ia lakukan.

Walaupun pada akhirnya, Winston harus berakhir dengan peluru yang menembus otaknya setelah ia menenggak arak terakhirnya. 

Well, tentunya nggak asing lagi kan mendengar ending dari perjalanan Winston, “penculikan” “penyiksaan” “pelenyapan” “penghianatan” ...

This book is the biography of the many nations in the world.

1984
George Orwell 
Signet Classics

Oh iyaaa, saya juga ada beberapa rekomendasi judul buku dengan isu serupa yang akan sayang jika dilewatkan. Salah satunya karya penulis dalam negeri Leila Chudori dengan judul, “Laut Bercerita” dan satu lagi “Human Act” yang dalam bahasa Indonesia berjudul “Mata Malam” karya Han Kang, penulis Korea Selatan. 

Xoxo ...
Read More

Resensi Buku Ilusi Demokrasi Kritik dan Otokritik Islam │ Zaim Saidi


Dunia Resensi - Resensi Buku Ilusi Demokrasi 

 
Demokrasi merupakan mesin politik kekuatan uang demi melestarikan negara-budak (slave state). Sistem demokrasi menjadikan negara-bangsa tidak relevan dan pemerintahan nasional kehilangan otoritas memerintah. Kebijakan pemerintahan demokrasi tak lebih dari menjalankan keputusan dan kepentingan kekuatan oligarki kapitalis bankir internasional (kelas kapitalis). Kapitalisme adalah sistem yang dibangun di atas fondasi riba dan menjadikan riba sebagai doktrin yang absolut. Dalam perspektif ini sosialisme pun adalah kapitalisme dalam versi lain, yakni kapitalisme negara (state capitalism).

Paham kapitalisme dalam negara modern telah ditetapkan dalam tiap konstitusi dengan elemen utama di dalamnya berupa sistem bank sentral, uang kertas, dan pajak. Buku ini membicarakan dua sisi dari koin yang sama. Pertama, tentang kritik Islam atas sistem kehidupan modern, yaitu kapitalisme dan mesin kekuasaan yang mendukungnya, negara fiskal dengan demokrasinya.

Kedua, tentang upaya umat Islam – dengan studi kasus umat Islam di Cape Town, Afrika Selatan - untuk merestorasi cara hidup Islami sebagai jalan keluar atas persoalan yang ditimbulkan oleh modernitas, dengan menerapkan kembali syari’ah. Model yang mereka tempuh adalah ’amal Madinah, yakni perilaku penduduk Madinah, dari tiga generasi pertama Islam.

Islam ditawarkan sebagai solusi dengan menghidupkan kembali muamalat, restorasi zakat, pasar terbuka, wakaf, kontrak-kontrak bisnis syirkat dan qirad, gilda, pemakaian dinar emas dan dirham perak, dan karavan dagang. Suatu pendekatan yang melampaui dialektika palsu dua wajah Islam, yang kini ditampilkan di muka publik, yakni Islam radikal dan Islam liberal. Keduanya adalah produk kembar kapitalisme.

Resensi Ilusi Demokrasi

Buku ini memuat 9 bab dan pada bab 9 merupakan kesimpulan dari bab-bab sebelumnya. Nah, kebetulan banget buat kamu yang males baca, tapi penasaran dengan isinya bisa membaca langsung dari bab 9 yang merupakan kesimpulan atau baca ulasan ini lebih lanjut, yah. Meskipun aku sendiri tidak mengulasnya secara keseluruhan apalagi menjabarkan setiap bab.

Oh, iya! Sebelumnya, buku yang aku review merupakan buku versi ebook yang diterbitkan pada tahun 2016 sedangkan versi cetak dengan cover yang berbeda diterbitkan pada tahun 2007. Dan yang lebih penting--menurutku menarik--adalah adanya penjelasan ringkas sebelum pemaparan pada setiap bab. Penjelasan ringkas itu adalah pokok pembahasan pada setiap bab. Hal itu menurutku sangat membantu untuk membuat kita memilih bab menarik mana yang ingin dibaca. Buku ini juga memuat gambar penjelasan bahkan ilustrasi mengenai apa yang sedang di bahas.

Sebelumnya, bab yang ingin aku bahas pada ulasan kali ini adalah  Bab 2 yaitu "Negara Fiskal: Demokrasi dan Otoritarianisme Kapital".

Fiskal sendiri merupakan sebuah istilah yang merujuk pada pembahasan pajak dan ini erat kaitannya dengan negara. Kemudian, dilanjutkan oleh demokrasi. Yup, demokrasi sendiri merupakan sistem pemerintahan yang sekarang ini mendominasi dunia. Bisa dibilang kebanyakan sistem pemerintahan di dunia saat ini adalah demokrasi. 

Yang paling bikin gregetan adalah Otoritarianisme Kapital dari beberapa kata sebelumnya pada bab 2 ini. Aku sendiri sudah membayangkan apa saja yang dibahas, tapi ketika ditambahkan dengan Otoritarianisme Kapital aku mikir kembali apakah setiap definisi kata-kata sebelumnya yang kuketahui tak sesuai atau kurang tepat? Atau jangan-jangan ada sebuah redefinisi? 

Sudahlah, aku pikir daripada banyak menduga-duga lebih baik kubaca saja. Benar saja, setelah membacanya aku jadi ingat perkataan Sokrates. Yup, Sokrates sendiri membenci sistem pemerintahan demokrasi dengan sebuah alasan:

"Tidak semua orang mampu untuk menentukan pilihan karena sebuah pilihan itu harus memiliki sebuah skill dan pengetahuan mumpuni agar pilihannya tepat." 

Pada bab ini juga memuat sejarah uang kertas dan perlu diketahui bahwa sekarang ini peredaran uang sebagian besar tanpa ada backup material yang menopangnya, maksudnya adalah nilai materialnya. Setelah membacanya, aku jadi ingat Dinaran. Ya, memang terdengar asing, tapi jika kalian pernah mendengar MMT (Modern Monetary Theory) pasti bakal langsung tau apa itu Dinaran.. Dinaran adalah sebuah aplikasi karya anak bangsa untuk transaksi jual beli emas secara digital yang terkoneksi dengan sistem Gerbang Pembayaran Nasional dengan mengedepankan kekuatan rupiah. 

Pada saat Anda memiliki akun Dinaran, maka “Setiap Rupiah Anda Ada Emas Senilai Uang Anda”. Karena memang setiap rupiah yang Anda transaksikan adalah untuk membeli emas. Itulah penjelasan yang aku kutip dari dinaran.id.

Lanjut ... pada bab tersebut selain membahas sejarah uang kertas dengan sistemnya, tak luput juga mengurai tentang VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). VOC sendiri merupakan Perusahaan multinasional pertama di dunia dari Belanda.


Setelah membaca judul buku ini aku sempat terpikirkan apakah dalam buku ini ada upaya dedolarisasi? Lalu, kapan pembahasan Otoritarianisme Kapital-nya?

Kalau  penasaran, silakan langsung baca bukunya ya ...!


***


Biografi Zaim Saidi

1. Pendidikan tinggi formal di Institut Pertanian Bogor (1986) dan Sydney University (1997)
2. Penulis :
- Ilusi Demokrasi (2007)
- Lawan Dolar dengan Dinar (2001)
- Kembali Ke Dinar: Tegakkan Muamalat, Tinggalkan Riba (Pustaka Adina, 2003)
- Tidak Islamnya Bank Islam (Pustaka Adina, 2003) direvisi menjadi Tidak Syariahnya Bank Syariah (Delokomotif, 2013)
3. Pemimpin Amirat Indonesia, yang terus mengupayakan kembalinya syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari umat Islam.
4. Mendirikan Wakala Induk Nusantara (WIN) sebagai lembaga terkait Dirham
5. Penggerak Baitul Mal Nusantara (BMN) untuk penarikan dan pembagian zakat mal dalam dinar dan dirham, serta mendorong terbangunnya jaringan pengguna Dinar Dirham di Nusantara.
6. Memasyaratkan Pasar Muamalah, di mana masyarakat berjual beli dengan Dirham perak, di pasar terbuka, yang tanpa sewa, tanpa pajak, dan tanpa riba.
7. Pendiri penerbitan Pustaka Adina sebagai salah satu media syiar dan dakwahnya.


Beliau juga dapat ditemukan di:

website :
https://zaimsaidi.com/about/

Facebook :
https://www.facebook.com/zaim.saidi.7

Twitter : https://twitter.com/ZaimSaidi?s=09

Info buku:

Judul: ILUSI DEMOKRASI
Penulis: Zaim Saidi
Halaman: 351
Penerbit: Pustaka Adina
Rating: 3.75


Read More

Kamis, 23 April 2020

Mindset: Perubahan Dimulai dari Pola Berpikir │ Carol S Dweck



Mindset adalah buah dari penelitian Carol S. Dweck, Ph.D. selama 20 tahun. Dia adalah seorang yang dikenal dunia sebagai peneliti kenamaan di bidang psikologi dan kepribadian. Selain itu, penulis buku Mindset ini juga seorang guru besar psikologi di Universitas Stanford. Bahkan buku akademisnya, Self Theories: Their Role in Motivation, Personality, and Development, dinobatkan sebagai Book of the Year oleh World Education Fellowship

Berbagai tulisan Dweck juga dimuat oleh media terkemuka semacam The New York Times, The Washington post, dll. Jadi, menurut saya teramat sayang kalau kalian tidak melahap isi buku spektakuler karya Dweck yang telah bertengger jadi topseller di amazon.com, sejak 13 tahun lalu hingga sekarang.

Sebenarnya, apasih Mindset menurut Dweck?

Resensi buku Mindset


Dalam buku Mindset, Dweck membagi Mindset menjadi dua tipe, yaitu;

1. Fixed Mindset atau Mindset Tetap
2. Gwroth Mindset atau Mindset Tumbuh


Menurutnya, seorang fix mindset tidak percaya pada konsep “upaya”, mereka cenderung terkurung dalam penjara kepintaran yang mereka buat sendiri. Mereka percaya bahwa sekali kau mendapat nilai bagus selamanya kau akan mendapat nilai bagus.

Sementara itu, seorang growth mindset berpikir yang sebaliknya. Mereka percaya bahwa kecerdasan bisa berubah seperti halnya otot, yang kalau dilatih terus menerus akan menjadi kuat dan besar.

Dalam bukunya, Dweck menyebutkan beberapa nama publik figur agar kita bisa mempelajari tipe mindset dan akibat yang ditimbulkan dari mindset-mindset yang dimiliki mereka.

Contoh yang pertama adalah Michael Jordan. Michael Jordan juga bukan orang yang memiliki bakat alami. Dia seorang atlet yang bekerja paling keras, mungkin dalam sejarah olahraga. Seperti diketahui umum bahwa Michael Jordan dikeluarkan dari tim bola basket sekolah. Dia tidak diterima oleh perguruan tinggi tempat ia ingin bermain (North Carolina State University).

Mungkin kita akan berpikir bawah—mereka—itu bodoh, tapi pada saat itu dia hanyalah MICHAEL JORDAN.

Ketika dikeluarkan dari tim bola basket sekolah dia hancur. Namun, kemudian dia mendisiplinkan diri dengan terbiasa berlatih setiap jam 6 pagi.

Suatu ketika setelah timnya kalah dalam pertandingan terakhir pada musim pertandingan, Jordan pergi dan melatih lemparannya selama berjam-jam.

Bagi Jordan, kesuksesan berasal dari pikiran. Ketangguhan mental dan hati jauh lebih kuat daripada keunggulan-keunggulan fisik yang mungkin Anda miliki.

Selain contoh dari Michael Jordan, ada pula gambaran dalam hidup berpasangan. Orang yang memiliki tipe mindset tetap akan selalu menuntut pasangannya menerima segala sifat, kebiasaan baik dan buruk yang dimiliki dirinya tanpa ada usaha untuk memperbaiki diri.

Individu dengan mindset tumbuh tetap memiliki kekurangan, namun ia sadar kalau ia bisa dan mau memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik demi situasi hubungan yang akan dijalaninya. Ada situasi penyingkiran ego dari diri sendiri karena orang bertipe mindset tumbuh menyadari kualitas hubungan seperti apa yang bisa dijalani bila ia sedikit demi sedikit belajar untuk jadi lebih baik.

Selain dua contoh di atas, Dweck juga mengkontraskan dengan apik tokoh-tokoh dunia —dibidang musik, sastra, sains, dan juga bisnis—dalam delapan bab yang terkandung di buku ini.

Menurut saya, buku ini cocok sekali dibaca semua kalangan; para pemimpin, eksekutif, guru, orangtua, pelatih olahraga, maupun individu.

Seperti dikutip dari Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, “Saya berharap, dengan membaca buku ini, kita bisa memperbarui cara mendidik dan membesarkan anak-anak kita. Karena, ada faktor lain selain prestasi akademik yang harus dibangun untuk melahirkan kehebatan.”

Ingat sekali lagi bahwa puncak adalah akibat dari melakukan apa yang kita cintai, puncak adalah efek samping dari antusiasme kita terhadap hal yang kita kerjakan.

Selamat membaca dan temukan banyak inspirasi yang niscaya membuat Anda senantiasa optimis, gembira, dan terampil membangkitkan kemampuan-kemampuan dahsyat dalam diri Anda.


Judul Asli : Mindset: The New Psychology of Success
Pengarang : Carol S. Dweck, Ph.D.
Alih Bahasa : Tim Penerjemah Baca
Penyunting : Amanda Setiorini dan Moh. Sidik Nugraha
Penerbit : PT Bentara Aksara Cahaya
Cetakan ll Edisi Revisi: Desember 2019
ISBN : 978-602-6486-35-6
Genre : Psikologi/Self Improvement
Read More