Dunia Resensi

Kumpulan resensi buku, cara resensi buku, contoh resensi buku, resensi buku fiksi, resensi buku nonfiksi, resensi novel, contoh resensi novel.

Latest Update
Fetching data...

Senin, 20 Juli 2020

Resensi The Things You Can See Only When You Slow Down │Haemin Sunim

 
Kenapa saya begitu sibuk?

Ketika segala sesuatu di sekitar saya bergerak begitu cepat, saya berhenti sejenak dan bertanya, “Apakah memang dunia yang terlalu sibuk, atau malah batin saya?”
The Things You Can See Only When You Slow Down, Haemin Sunim


Buku self improvement dari Korea Selatan ini sudah terjual lebih dari tiga juta eksemplar di negara asalnya dan menduduki peringkat pertama buku terlaris selama 41 minggu berturut-turut. Kemudian diterbitkan dalam Bahasa Indonesia pada April 2020 oleh POP, imprint Kepustakaan Populer Gramedia. 

Resensi The Things You Can See Only When You Slow Down


The Things You Can See Only When You Slow Down memiliki delapan bab yang membahas berbagai aspek kehidupan—dari cinta, persahabatan, hingga kerja dan aspirasi—serta bagaimana sebuah perhatian yang sungguh-sungguh dapat membantu kita di dalamnya.

Setiap bab dibuka dengan sebuah esai, kemudian diikuti oleh serangkaian pesan singkat—kata-kata nasihat dan kebijaksanaan yang ditujukan langsung kepada pembaca untuk dipertimbangkan satu per satu, dan diingat.

Di sepanjang halaman ada ilustrasi warna yang dibuat oleh Youngcheol Lee; ini dimaksudkan sebagai selingan yang menenangkan, untuk merenung dan melambatkan kecepatan seperti yang dilakukan saat meditasi.

Haemin Sunim menginstruksikan agar membaca bukunya pelan-pelan, tidak seperti membaca novel. Supaya pembaca lebih bisa meresapi dan memahami maksud dari tulisannya. 

Hasilnya?

Saya mempraktekkan itu, membaca tidak terburu-buru dan memang menenangkan. 

Salah satu kata-kata Haemin  Sunim yang saya suka adalah;

“Saat kita berangkat kerja di pagi hari, apabila kita pernah bertanya, ‘Apa saya harus menjalani sisa hidup seperti ini?’ cobalah lakukan hal ini:

Bangunlah sedikit lebih awal keesokan paginya, kemudian duduklah di tengah keheningan, seperti sedang bermeditasi.

Tarik napas dalam-dalam dan lambat-lambat, dan ingatkan diri kita bagaimana pekerjaan kita membantu orang lain, meski tidak terasa penting atau tidak secara langsung.

Saat kita berfokus pada orang lain, kita bisa menemukan kembali arti dan tujuan pekerjaan kita.” Halaman 20.

Menurut saya, salah satu kelebihan buku ini adalah, menyentuh hampir semua sisi kehidupan yang terdiri dari dunia kerja, hubungan sosial baik teman maupun percintaan, lalu sisi spiritual dan masa depan. Membaca buku ini membuat saya bisa bersantai sambil berintrospeksi sejenak dari riuhnya kehidupan. 

Dunia kita memang sibuk, dan adanya buku ini memang membuat kita teringat kembali pada hal-hal yang sederhana tapi terlupakan begitu saja.

Jadi, selamat bermeditasi dan menepi sejenak dari bising dunia ini. 

Xoxo ...

***

Informasi buku:

The Things You Can See Only When You Slow Down

Penulis: Haemin Sunim

Judul Asli: The Things You Can See Only When You Slow Down

Penerjemah: Daniel Santosa

Penyunting: Katrine Gabby Kusuma

Ilustrasi: Youngcheol Lee

Genre: Self Improvement 

Cetakan Pertama: April 2020

ISBN: 978-602-481-365-9

Tebal: xi+265hlm; 13,5 cm x 18 cm
Read More

Sabtu, 18 Juli 2020

Resensi Novel 1984 │ George Orwell


 
“WAR IS PEACE
FREEDOM IS SLAVERY
IGNORANCE IS STRENGTH”


Satu kata untuk 1984, George Orwell; “Mengerikan!”

Pernah terbayang tidak, bagaimana jika setiap gerak-gerik kita diawasi? 

Saya ulangi,

Diawasi!

Setiap hari, 24/7 apa pun yang kita lakukan diawasi polisi.

Kebayang?

Bahkan di toilet, bercinta, ke pasar juga diawasi. 

Dunia Resensi - Resensi Novel 1984


Novel 1984 merupakan salah satu karya gemilang Orwell yang dipercaya banyak orang sebagai ramalan akan masa depan. Kenapa begitu?
 
Faktanya buku ini ditulis pada tahun 1949, dan semakin mendekati tahun 1984 suasana semakin tegang. Perlahan ramalan-ramalan itu menjadi kenyataan, bahkan buku ini saya rasa masih relevan sampai sekarang. Setelah 71 tahun berlalu. Saya yakin banyak yang masih menjadikan buku ini sebagai “kesayangan” di rak-rak bukunya. 

Hal itu dapat membuktikan bahwa George Orwell memang seorang penulis yang berusaha atau bahkan telah berhasil untuk melampaui zamannya. Tak heran jika penulis kebangsaan Inggris itu menjadi peraih Nobel Kesusastraan. 

Pada zaman itu, dunia terbagi menjadi tiga negara besar. Oceania, Eurasia, dan Eastasia. Latar 1984 adalah di Oceania di mana sebelum revolusi, merupakan negara yang sangat menyedihkan, gelap, dan kotor. Semua keadaan itu karena keserakahan dan kebijakan antar para kapitalis yang hanya menguntungkan golongannya sendiri dan menganggap kaum proletar tidak lebih dari budak.

Pasca revolusi, Oceania dikuasai oleh satu Partai yang dipimpin oleh seorang Big Brother. Pada zaman ini, Oceania bisa dikatakan sebagai negara modern meskipun keadaan tidak lebih baik dari sebelumnya. 

Big Brother menggunakan cara-cara yang sangat totalitarian untuk mempertahankan kekuasaannya dengan pembenar agar Oceania tidak menjadi negara yang dikuasai oleh kaum kapitalis seperti sebelumnya. Roda pemerintahan dikendalikan oleh pemerintah yang otoriter dengan mengutamakan polisi pikiran dan teleskrin

Nahhh, itu dia, teleskrin. Alat yang mungkin bisa dikatakan sebagai kamera cctv. Selain teleskrin dan polisi pikiran, juga dipasang microphone tersembunyi bahkan di bilik-bilik toilet. Juga poster-poster besar bertuliskan “Big Brother Is Watching You”

Ngeri! 

Pengawasan itu semakin menegaskan bahwa pada zaman ini 'privasi' hanyalah sebuah fantasi yang sangat sulit direalisasikan. 

Winston Smith —tokoh utama dalam buku ini— adalah seorang anggota Partai yang dipimpin oleh Big Brother. tugas Winston adalah untuk memalsukan atau bahkan menghapus sejarah dan menulis ulang sejarah baru sesuai kehendak Partai yang berbalut atas kehebatan Big Brother, walaupun dalam kebanyakan kasus kehebatan Big Brother tidaklah pernah terjadi sama sekali.

Iya, sejarah pada masa itu dihapus dan diganti sekehendak hati Big Brother yang kuasa.

Legitimasi atas kekuasaan Big Brother memang diakui, tapi itu semua tidak terlepas dari kritik, penolakan dan pembangkangan rakyat Oceania, termasuk Winston. 

Winston beberapa kali melanggar larangan-larangan kecil, seperti, bercinta dengan pelacur dan membeli barang dari pasar gelap. 

Sampai pada titik di mana ia berani dan mungkin memang harus berani melawan itu semua untuk mencoba meloloskan diri dari belenggu kebohongan, pengawasan, atau hanya sekadar memuaskan nafsunya untuk membuktikan konsekuensi dari tindakan-tindakan yang pernah ia lakukan.

Walaupun pada akhirnya, Winston harus berakhir dengan peluru yang menembus otaknya setelah ia menenggak arak terakhirnya. 

Well, tentunya nggak asing lagi kan mendengar ending dari perjalanan Winston, “penculikan” “penyiksaan” “pelenyapan” “penghianatan” ...

This book is the biography of the many nations in the world.

1984
George Orwell 
Signet Classics

Oh iyaaa, saya juga ada beberapa rekomendasi judul buku dengan isu serupa yang akan sayang jika dilewatkan. Salah satunya karya penulis dalam negeri Leila Chudori dengan judul, “Laut Bercerita” dan satu lagi “Human Act” yang dalam bahasa Indonesia berjudul “Mata Malam” karya Han Kang, penulis Korea Selatan. 

Xoxo ...
Read More

Resensi Buku Ilusi Demokrasi Kritik dan Otokritik Islam │ Zaim Saidi


Dunia Resensi - Resensi Buku Ilusi Demokrasi 

 
Demokrasi merupakan mesin politik kekuatan uang demi melestarikan negara-budak (slave state). Sistem demokrasi menjadikan negara-bangsa tidak relevan dan pemerintahan nasional kehilangan otoritas memerintah. Kebijakan pemerintahan demokrasi tak lebih dari menjalankan keputusan dan kepentingan kekuatan oligarki kapitalis bankir internasional (kelas kapitalis). Kapitalisme adalah sistem yang dibangun di atas fondasi riba dan menjadikan riba sebagai doktrin yang absolut. Dalam perspektif ini sosialisme pun adalah kapitalisme dalam versi lain, yakni kapitalisme negara (state capitalism).

Paham kapitalisme dalam negara modern telah ditetapkan dalam tiap konstitusi dengan elemen utama di dalamnya berupa sistem bank sentral, uang kertas, dan pajak. Buku ini membicarakan dua sisi dari koin yang sama. Pertama, tentang kritik Islam atas sistem kehidupan modern, yaitu kapitalisme dan mesin kekuasaan yang mendukungnya, negara fiskal dengan demokrasinya.

Kedua, tentang upaya umat Islam – dengan studi kasus umat Islam di Cape Town, Afrika Selatan - untuk merestorasi cara hidup Islami sebagai jalan keluar atas persoalan yang ditimbulkan oleh modernitas, dengan menerapkan kembali syari’ah. Model yang mereka tempuh adalah ’amal Madinah, yakni perilaku penduduk Madinah, dari tiga generasi pertama Islam.

Islam ditawarkan sebagai solusi dengan menghidupkan kembali muamalat, restorasi zakat, pasar terbuka, wakaf, kontrak-kontrak bisnis syirkat dan qirad, gilda, pemakaian dinar emas dan dirham perak, dan karavan dagang. Suatu pendekatan yang melampaui dialektika palsu dua wajah Islam, yang kini ditampilkan di muka publik, yakni Islam radikal dan Islam liberal. Keduanya adalah produk kembar kapitalisme.

Resensi Ilusi Demokrasi

Buku ini memuat 9 bab dan pada bab 9 merupakan kesimpulan dari bab-bab sebelumnya. Nah, kebetulan banget buat kamu yang males baca, tapi penasaran dengan isinya bisa membaca langsung dari bab 9 yang merupakan kesimpulan atau baca ulasan ini lebih lanjut, yah. Meskipun aku sendiri tidak mengulasnya secara keseluruhan apalagi menjabarkan setiap bab.

Oh, iya! Sebelumnya, buku yang aku review merupakan buku versi ebook yang diterbitkan pada tahun 2016 sedangkan versi cetak dengan cover yang berbeda diterbitkan pada tahun 2007. Dan yang lebih penting--menurutku menarik--adalah adanya penjelasan ringkas sebelum pemaparan pada setiap bab. Penjelasan ringkas itu adalah pokok pembahasan pada setiap bab. Hal itu menurutku sangat membantu untuk membuat kita memilih bab menarik mana yang ingin dibaca. Buku ini juga memuat gambar penjelasan bahkan ilustrasi mengenai apa yang sedang di bahas.

Sebelumnya, bab yang ingin aku bahas pada ulasan kali ini adalah  Bab 2 yaitu "Negara Fiskal: Demokrasi dan Otoritarianisme Kapital".

Fiskal sendiri merupakan sebuah istilah yang merujuk pada pembahasan pajak dan ini erat kaitannya dengan negara. Kemudian, dilanjutkan oleh demokrasi. Yup, demokrasi sendiri merupakan sistem pemerintahan yang sekarang ini mendominasi dunia. Bisa dibilang kebanyakan sistem pemerintahan di dunia saat ini adalah demokrasi. 

Yang paling bikin gregetan adalah Otoritarianisme Kapital dari beberapa kata sebelumnya pada bab 2 ini. Aku sendiri sudah membayangkan apa saja yang dibahas, tapi ketika ditambahkan dengan Otoritarianisme Kapital aku mikir kembali apakah setiap definisi kata-kata sebelumnya yang kuketahui tak sesuai atau kurang tepat? Atau jangan-jangan ada sebuah redefinisi? 

Sudahlah, aku pikir daripada banyak menduga-duga lebih baik kubaca saja. Benar saja, setelah membacanya aku jadi ingat perkataan Sokrates. Yup, Sokrates sendiri membenci sistem pemerintahan demokrasi dengan sebuah alasan:

"Tidak semua orang mampu untuk menentukan pilihan karena sebuah pilihan itu harus memiliki sebuah skill dan pengetahuan mumpuni agar pilihannya tepat." 

Pada bab ini juga memuat sejarah uang kertas dan perlu diketahui bahwa sekarang ini peredaran uang sebagian besar tanpa ada backup material yang menopangnya, maksudnya adalah nilai materialnya. Setelah membacanya, aku jadi ingat Dinaran. Ya, memang terdengar asing, tapi jika kalian pernah mendengar MMT (Modern Monetary Theory) pasti bakal langsung tau apa itu Dinaran.. Dinaran adalah sebuah aplikasi karya anak bangsa untuk transaksi jual beli emas secara digital yang terkoneksi dengan sistem Gerbang Pembayaran Nasional dengan mengedepankan kekuatan rupiah. 

Pada saat Anda memiliki akun Dinaran, maka “Setiap Rupiah Anda Ada Emas Senilai Uang Anda”. Karena memang setiap rupiah yang Anda transaksikan adalah untuk membeli emas. Itulah penjelasan yang aku kutip dari dinaran.id.

Lanjut ... pada bab tersebut selain membahas sejarah uang kertas dengan sistemnya, tak luput juga mengurai tentang VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). VOC sendiri merupakan Perusahaan multinasional pertama di dunia dari Belanda.


Setelah membaca judul buku ini aku sempat terpikirkan apakah dalam buku ini ada upaya dedolarisasi? Lalu, kapan pembahasan Otoritarianisme Kapital-nya?

Kalau  penasaran, silakan langsung baca bukunya ya ...!


***


Biografi Zaim Saidi

1. Pendidikan tinggi formal di Institut Pertanian Bogor (1986) dan Sydney University (1997)
2. Penulis :
- Ilusi Demokrasi (2007)
- Lawan Dolar dengan Dinar (2001)
- Kembali Ke Dinar: Tegakkan Muamalat, Tinggalkan Riba (Pustaka Adina, 2003)
- Tidak Islamnya Bank Islam (Pustaka Adina, 2003) direvisi menjadi Tidak Syariahnya Bank Syariah (Delokomotif, 2013)
3. Pemimpin Amirat Indonesia, yang terus mengupayakan kembalinya syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari umat Islam.
4. Mendirikan Wakala Induk Nusantara (WIN) sebagai lembaga terkait Dirham
5. Penggerak Baitul Mal Nusantara (BMN) untuk penarikan dan pembagian zakat mal dalam dinar dan dirham, serta mendorong terbangunnya jaringan pengguna Dinar Dirham di Nusantara.
6. Memasyaratkan Pasar Muamalah, di mana masyarakat berjual beli dengan Dirham perak, di pasar terbuka, yang tanpa sewa, tanpa pajak, dan tanpa riba.
7. Pendiri penerbitan Pustaka Adina sebagai salah satu media syiar dan dakwahnya.


Beliau juga dapat ditemukan di:

website :
https://zaimsaidi.com/about/

Facebook :
https://www.facebook.com/zaim.saidi.7

Twitter : https://twitter.com/ZaimSaidi?s=09

Info buku:

Judul: ILUSI DEMOKRASI
Penulis: Zaim Saidi
Halaman: 351
Penerbit: Pustaka Adina
Rating: 3.75


Read More

Kamis, 23 April 2020

Mindset: Perubahan Dimulai dari Pola Berpikir │ Carol S Dweck



Mindset adalah buah dari penelitian Carol S. Dweck, Ph.D. selama 20 tahun. Dia adalah seorang yang dikenal dunia sebagai peneliti kenamaan di bidang psikologi dan kepribadian. Selain itu, penulis buku Mindset ini juga seorang guru besar psikologi di Universitas Stanford. Bahkan buku akademisnya, Self Theories: Their Role in Motivation, Personality, and Development, dinobatkan sebagai Book of the Year oleh World Education Fellowship

Berbagai tulisan Dweck juga dimuat oleh media terkemuka semacam The New York Times, The Washington post, dll. Jadi, menurut saya teramat sayang kalau kalian tidak melahap isi buku spektakuler karya Dweck yang telah bertengger jadi topseller di amazon.com, sejak 13 tahun lalu hingga sekarang.

Sebenarnya, apasih Mindset menurut Dweck?

Resensi buku Mindset


Dalam buku Mindset, Dweck membagi Mindset menjadi dua tipe, yaitu;

1. Fixed Mindset atau Mindset Tetap
2. Gwroth Mindset atau Mindset Tumbuh


Menurutnya, seorang fix mindset tidak percaya pada konsep “upaya”, mereka cenderung terkurung dalam penjara kepintaran yang mereka buat sendiri. Mereka percaya bahwa sekali kau mendapat nilai bagus selamanya kau akan mendapat nilai bagus.

Sementara itu, seorang growth mindset berpikir yang sebaliknya. Mereka percaya bahwa kecerdasan bisa berubah seperti halnya otot, yang kalau dilatih terus menerus akan menjadi kuat dan besar.

Dalam bukunya, Dweck menyebutkan beberapa nama publik figur agar kita bisa mempelajari tipe mindset dan akibat yang ditimbulkan dari mindset-mindset yang dimiliki mereka.

Contoh yang pertama adalah Michael Jordan. Michael Jordan juga bukan orang yang memiliki bakat alami. Dia seorang atlet yang bekerja paling keras, mungkin dalam sejarah olahraga. Seperti diketahui umum bahwa Michael Jordan dikeluarkan dari tim bola basket sekolah. Dia tidak diterima oleh perguruan tinggi tempat ia ingin bermain (North Carolina State University).

Mungkin kita akan berpikir bawah—mereka—itu bodoh, tapi pada saat itu dia hanyalah MICHAEL JORDAN.

Ketika dikeluarkan dari tim bola basket sekolah dia hancur. Namun, kemudian dia mendisiplinkan diri dengan terbiasa berlatih setiap jam 6 pagi.

Suatu ketika setelah timnya kalah dalam pertandingan terakhir pada musim pertandingan, Jordan pergi dan melatih lemparannya selama berjam-jam.

Bagi Jordan, kesuksesan berasal dari pikiran. Ketangguhan mental dan hati jauh lebih kuat daripada keunggulan-keunggulan fisik yang mungkin Anda miliki.

Selain contoh dari Michael Jordan, ada pula gambaran dalam hidup berpasangan. Orang yang memiliki tipe mindset tetap akan selalu menuntut pasangannya menerima segala sifat, kebiasaan baik dan buruk yang dimiliki dirinya tanpa ada usaha untuk memperbaiki diri.

Individu dengan mindset tumbuh tetap memiliki kekurangan, namun ia sadar kalau ia bisa dan mau memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik demi situasi hubungan yang akan dijalaninya. Ada situasi penyingkiran ego dari diri sendiri karena orang bertipe mindset tumbuh menyadari kualitas hubungan seperti apa yang bisa dijalani bila ia sedikit demi sedikit belajar untuk jadi lebih baik.

Selain dua contoh di atas, Dweck juga mengkontraskan dengan apik tokoh-tokoh dunia —dibidang musik, sastra, sains, dan juga bisnis—dalam delapan bab yang terkandung di buku ini.

Menurut saya, buku ini cocok sekali dibaca semua kalangan; para pemimpin, eksekutif, guru, orangtua, pelatih olahraga, maupun individu.

Seperti dikutip dari Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, “Saya berharap, dengan membaca buku ini, kita bisa memperbarui cara mendidik dan membesarkan anak-anak kita. Karena, ada faktor lain selain prestasi akademik yang harus dibangun untuk melahirkan kehebatan.”

Ingat sekali lagi bahwa puncak adalah akibat dari melakukan apa yang kita cintai, puncak adalah efek samping dari antusiasme kita terhadap hal yang kita kerjakan.

Selamat membaca dan temukan banyak inspirasi yang niscaya membuat Anda senantiasa optimis, gembira, dan terampil membangkitkan kemampuan-kemampuan dahsyat dalam diri Anda.


Judul Asli : Mindset: The New Psychology of Success
Pengarang : Carol S. Dweck, Ph.D.
Alih Bahasa : Tim Penerjemah Baca
Penyunting : Amanda Setiorini dan Moh. Sidik Nugraha
Penerbit : PT Bentara Aksara Cahaya
Cetakan ll Edisi Revisi: Desember 2019
ISBN : 978-602-6486-35-6
Genre : Psikologi/Self Improvement
Read More

Sabtu, 18 Januari 2020

Resensi Novel If Only │Innayah Putri

resensi novel if only, novel if only


Dunia Resensi - Resensi novel If Only.

"Kita berkeras kepala, memintal benang demi benang kemungkinan agar terwujud sebuah harapan. Sekalipun memahami bahwa akhir bahagia merupakan perihal yang fana."

Oke, jadi sudah dua kali aku baca novel If Only ini, dan selalu nangis. This is a beautiful sad story. Ceritanya begitu kelam dan dramatis.


Deskripsi :

Arjuna Pranaja. Pemuda bermata gelap itu telah belajar banyak mengenai kehilangan. Keluarga kecilnya berantakan, hal-hal menyakitkan terjadi di depan matanya, orang-orang tercintanya pergi tanpa pernah bisa kembali.
Selang waktu berjalan, ia berusaha untuk bangkit. Ia kira setelah segala hal menyakitkan terjadi, tinggal senyum yang menanti.
Saat itulah, Kiana Niranjana berdiri di sana, membawanya keluar dari labirin masa lalu yang gelap. Gadis itu mengajarkannya cara tertawa, juga bahagia.
Tapi ternyata, semesta memang kerap kali suka bercanda. Badai itu belum reda sepenuhnya. Luka itu belum kering seutuhnya. Keberadaan Kiana justru menyeretnya menuju luka yang lebih dalam.
Hingga pada satu titik kelelahannya, ia mulai bertanya-tanya:
Mungkinkah ia memiliki akhir yang bahagia?

Ulasan: 

Alasan kenapa akhirnya aku membeli dan membacanya tak lebih karena aku butuh asupan ke-halu-an setelah pusing dengan pekerjaan dunia nyata. And then aku ketemu If Only yang covernya comotable ini. 

Dari awal membawa pulang If Only, aku tidak menaruh ekspektasi apa-apa. Bahkan stiker “Dibaca 2,4 juta kali di Wattpad” yang menempel di sampul terkesan biasa saja. Sudah sering tertipu stiker semacam itu soalnya. Hehe.

Seperti dugaanku, ceritanya memang lumayan klise dan dramatis. Aku memulai awal petualangan bersama Kiana dan Juna dengan prolog yang wow! Dalam dan kelam. Akan tetapi, di lembar-lembar bab satu dan seterusnya aku sudah punya gambaran akan seperti apa cerita ini dikemas. 

Tokohnya kurang memorable, itu benar. Satu hal yang membuatnya gampang diingat hanyalah gambaran fisik seperti, Juna cakep banget. Sudah seperti itu, mungkin karena penulis kurang menggali karakter setiap tokohnya. 

Pada awalnya aku dibuat kesal dengan tingkah Kiana yang childish, tapi dengan berlanjutnya alur cerita dan banyak kejadian yang menimpa, Kiana semakin dewasa.

Dari yang aku tangkap, kenapa banyak yang naksir Kiana ya karena dia cantik. Udah gitu doang. Karena sekali lagi, karakter di setiap tokohnya kurang kuat. 

Entah kenapa di bagian awal bukunya cenderung datar. Masa-masa pedekate Juna-Kiana juga tidak terjadi sesuatu yang mak deg! Hehe. Gimana ya jelasinnya? Contohnya, saat Dimas cemburu. Ohh, oke, Dimas lagi cemburu. Cuma seperti itu, kaya susah buat simpati ke tokohnya. Meskipun, ada banyak juga scene yang bikin ketawa-ketawa. Misalnya celetukan ngasal Kiana.

Di tengah menjelang akhir cerita, dari yang mulanya klise, berubah menjadi melodramatis. Sebuah rahasia terungkap dan mereka hancur. Rahasia apa, tentu tidak aku sebutkan di sini.  Jujur saja, di bagian ini aku bener-bener nangis. Sakitnya kerasa banget. Dan kupikir akan ada plot twist or something, nyatanya cerita berakhir seperti yang aku kira. Yah, mungkin ending seperti itu memang solusi paling mudah untuk masalah kedua karakter yang rumit. 

Terlepas dari semua poin-poin negative yang aku uraikan di atas, cara bercerita Innayah Putri tergolong mengalir dan mudah dicerna. Banyak quotes menarik dalam setiap pergantian bab, dan aku suka kalimat-kalimat puitis Innayah Putri di buku ini. Love!

"Forget the truth just for a while." -246


Catatan: Ulasan ini dibuat berdasarkan subjektifku saja, mungkin pembaca lain akan mendapat kesan yang berbeda. 

Selamat membaca. ❤


Judul: If Only
Penulis: Innayah Putri
Halaman: 343 halaman
Genre: Teenlit, Romance
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 9786024302689
Rate: ★★★


Read More

Kamis, 08 Agustus 2019

Resign: Cara Gila Meninggalkan Pekerjaan!

resign-novel resign-almira bastari


Dunia Resensi - Resensi novel Resign 

“Sesibuk-sibuknya cungpret, kami masih punya waktu buka media sosial—terutama untuk ngecek gosip.” —Cungpret Senior


Resign!
Kira-kira kalau baca judul buku seperti di atas, kalian bakal mikir apa? Buku tentang tips & trik resign-kah? Ternyata bukan lhooo. Buku kuning ini adalah novel metropop yang ngepop abis, karya Almira Bastari.

Siapa sih, Almira Bastari si penulis Resign ini? Gini, aku ceritain sedikit. Almira ini bisa dikatakan penulis baru yang lumayan memiliki pembaca. Terbukti dari followersnya di salah satu platform menulis online—wattpad—yang mencapai ribuan. Lalu, dia menambah catatan ke-famous-annya setelah mencetak buku perdananya berjudul Melbourne Wedding Marathon yang terjual ribuan eksemplar. Wow!

Kalau kalian penasaran sama buku pertamanya, bisa akses ke duniaresensi.com di sana aku pernah buat resensinya.


Balik lagi ke buku kuning bernama Resign! Ini. Masih mengusung tema yang sama, yaitu metropop, kali ini Almira menceritakan persaingan ketat keempat cungpret (kacung kampret) di salah satu kantor konsultan. Anehnya, mereka berempat justru bersaing untuk resign duluan. Lho, kenapa kok malah saingan mau resign? Nanti ya, kita bahas setelah kenalan sama mereka.

Cungpret #1: Alranita
Pegawai termuda yang tertekan akibat perlakuan semena-mena sang bos.

Cungpret #2: Carlo
Pegawai yang baru menikah dan ingin mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi.

Cungpret #3: Karenina
Pegawai senior yang selalu dianggap tidak becus tapi terus-menerus dijejali proyek baru.

Cungpret #4: Andre
Pegawai senior kesayangan sang bos yang berniat resign demi menikmati kehidupan keluarga yang lebih normal dan seimbang.

Dan satu lagi,

Sang Bos: Tigran
Pemimpin genius, misterius, dan arogan, tapi dipercaya untuk memimpin timnya sendiri pada usia yang masih cukup muda.

Nah, yang terakhir ini nih, biang keroknya.

Punya bos ganteng dan genius ternyata tidak membuat mereka berempat betah di kantor. Hla iya gimana mau betah, kalau ternyata si bos arogannya selangit, terus nyiksa dengan pekerjaan yang selalu nggak pernah bener. Duh, mending buru-buru ngajuin surat pengunduran diri ya, kan?

"Saya nggak pernah menyuruh kamu lembur. Kalau kamu sampai lembur, justru saya harus bertanya, dari pagi ngapain aja?"
- Bos yang tidak ingin dibantah

Sayangnya, radar si Tigran ini kuat banget soal usaha resign para bawahannya. Mereka selalu gagal setiap kali merencanakan wawancara kerja. Makanya sampai dibuat taruhan. Siapa yang resign paling terakhir, dia yang traktir paling mahal. Haha. Pokoknya kocak parah kelakuan mereka berempat deh. Lucu banget kalau pada ngumpul dan saling curhat soal masalah masing-masing.

"Gosip itu seperti energi-tidak mungkin dihilangkan, tapi dapat berpindah atau berubah bentuk."
- Hukum Fisika Cungpret

Kisah aktivitas kantor dalam novel ini terdeskripsikan dengan detail dan mengasyikkan untuk dibaca. Twist para tokohnya enak untuk dinikmati. ditambah dialog-dialog yang konyol dan fresh, membuat novel ini bisa banget jadi bacaan yang menghibur. Cocok banget dibaca saat otak sedang butuh penyegaran.

Selanjutnya, novel metropop tanpa scene cinta-cintaan itu kurang greget donggg. Jadi, di novel ini juga disisipin kisah-kasih beraroma cinta. Eaaa haha. Yah, walaupun tetep yang mendominasi seputaran resign, tapi cerita cintanya lumayan menghibur juga kok. Kenapa kubilang lumayan, karena diceritakan buru-buru, seperti udah bangun kesiangan, ketinggalan angkot lagi. Nah, seperti itu. Terkesan dipaksakan.

Namun meskipun begitu, menurutku Almira menunjukan kemajuan yang signifikan dari novel sebelumnya. Yah, biarpun masih aja ada beberapa kesalahan ya. Seperti di halaman 192, ada 3 paragraf berulang-ulang. Kemudian halaman 150, yang pas ketemu Arya. Pertamanya dia bilang, “Untung gue dua minggu lagi nikah. …”, namun di paragraph selanjutnya dia bilang, “Parah, parah! Gue baru mau nikah minggu depan”, yang benar yang mana?

But overall, this is a-must-read book! Nggak bikin bosen dan ngangenin. Satu lagi yang bikin novel Resign ini lebih classy adalah adanya quotes ngawur tapi bener di setiap babnya. Haha.
Selamat membaca, semoga terhibur dengan Tigran dan keempat cungpretnya.


Judul: Resign

Penulis: Almira Bastari
Editor: Claudia Von Nasution
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku              : 288 halaman
Tahun Terbit          : Januari 2018
ISBN                           : 9786020380711
Genre: Metropop






Read More

Selasa, 06 Agustus 2019

Reem: Ketika Cinta dan Maut Saling Bertautan

reem, novel-reem, sinta-yudisia


Resensi Novel Reem - 

“Apakah maut dan desing peluru ini akan mematahkan cintamu?”


Sebenarnya aku nggak tau mau nulis resensi seperti apa, tapi baiklah aku akan mengajak kalian mengintip sedikit isi novel Reem ini.

Sebelumnya, mari kenalan dulu dengan sang penulis. Mbak Sinta Yudisia ini seorang penulis, psikolog, dan juga trainer kepenulisan. Asalnya dari mana? Mbak Sintia asli wong Jowo, dia lahir di Jogja tanggal 18 Februari 1974. Nah, novel Reem merupakan buku ke 61 dan novel ke 19 dari dia. Jadi, kalau kalian belum kenal siapa Sinta Yudisia, kasian sekali. :)

Sebenarnya Reem ini novel apa sih, Na? Apa ya, romance iya, historical iya, islami iya, jadi sebut saja novel romance historical islami. Haha.

Awal tertarik baca karena nggak sengaja ketemu di toko buku. Melihat sampulnya bertuliskan “inspired by true story” membuatku tak pikir panjang lagi untuk mengangkutnya pulang. Dan ternyata, aku nggak menyesal sama sekali beli buku ini.

Mengisahkan Reem, gadis berdarah Palestina-Indonesia yang tinggal di Maroko. Duh, dengar ketiga nama negara itu saja aku sudah merinding.

Jadi Reem ini benar ada dan hidup di Maroko sana, tapi tidak 100% cerita di novel ini nyata, ya. Sebagian lainnya hanyalah karangan.

Ayah Reem orang Palestina—Gaza—sementara ibunya berasal dari Kalimantan, Indonesia.

Ceritanya Reem ini gadis tangguh dengan sejuta rahasia. Penghafal Quran sejak usia 11 tahun. Menekuni sastra, sejarah dan berharap bisa menjadi seorang mufassir. Di lembar-lembar awal buku ini, pembaca akan dibuat haru dengan kisah masa kecil Reem.

Selanjutnya, cerita kehidupan nggak lengkap kan tanpa cinta? Jadi di buku ini dikisahkan Kasim, pemuda Indonesia yang jatuh cinta pada Reem saat berorasi di depan gedung parlemen di Rabat. Di awal perkenalan, Kasim meminta bantuan Reem dalam melakukan penelitian tesis tentang Palestina.  Mereka banyak berdiskusi tentang Palestina, dari sejarah tiga agama, perang yang memilukan, anak-anak dan ibu-ibu yang pemberani dan kisah hidup Baba, Ummi dan Reem di tanah para Nabi. Kurang lebih begitulah. Sampai akhirnya mereka jatuh cinta.

Alya dan Ilham yang konyol, kocak, senang bertikai dan ramai kalau bertengkar—Alya ini adiknya Kasim. Di scene Alay-Ilham, pembaca akan dibuat tertawa, kesal, dan juga gemas. Penulis bisa sekali memainkan emosi pembaca. Campur aduk seperti gado-gado. Lalu juga Dokter Salim Aziz yang turut jatuh hati pada Reem. Siapa Dokter Salim ini? Baca bukunya, ya. Hihi.

Selain kisah cinta, setting Marokonya dapet banget. Reem yang diceritakan seorang mahasiswi sejarah banyak bercerita dan menjelaskan tentang tempat-tempat bersejarah di Maroko. Kota-kota indah seperti Rabat, Fez, Marrakesh menjadi bagian di dalamnya. Tapi, ada satu tempat yang menjadi favoritku di novel Reem ini. Sebuah jalan bernama Rue Sukarno. Betapa negarawan bangsa ini begitu dihormati di mata dunia.

Lalu, di bagian akhir novel ini bercerita tentang kematian. Terkadang yang sakit tidak meninggal di awal, malah yang tidak sakit bisa meninggal lebih dulu. Ya, novel ini bercerita tentang Palestina, Cinta, dan Kematian.

Oh iya hampir lupa, bagian menarik lainnya adalah puisi-puisi Reem yang dalam dan menghanyutkan. Novel ini sangat direkomendasikan bagi kamu yang menyukai genre romance islami.


Sekian resensi Novel Reem kali ini, semoga bisa menjadi gambaran sebelum membelinya. Jadi, selamat membaca dan terhanyut.



Noted: Novel Reem menjadi pemenang fiksi dewasa terbaik di Islamic Book Fair Award 2018


Penulis: Sinta Yudisia

Penyunting naskah: Irfan Hidayatullah
Cetakan: 1, Agustus 2017
Penerbit: PT Mizan, Bandung
Tebal halaman: 352 halaman
ISBN: 978-602-6716-11-8





Read More